Latest News

Sabtu, 23 April 2016

Kartini dari Lereng Meratus

(Memperingati Hari Kartini, 21 April 2016)
Mereka terlahir dari tempat terpencil yang jauh dari peradaban, yaitu di lereng Pegunungan Meratus hutan Tropis Kalimantan Selatan. Tepatnya di seputar Kecamatan Loksado, Kabupaten HSS, Kalsel.

Sebagian orang menyebut mereka " Dayak Meratus " adapula yang menyebut "Urang Bukit". 
Banyak yang menarik dari sisi kehidupan mereka yang perlu kita ketahui, salah satunya adalah tentang pendidikan kaum "hawa" nya. (baca juga : Hati-hati Tatap Gadis di Kampung Ini, Bisa Disuruh Nikahi..)

Dari sebagian perempuan "urang bukit" yang bermukim jauh dari pusat kecamatan, belasan tahun silam, mereka hanya di jejali pendidikan SD, kemudian kawin dan punya anak dan sehari hari membantu suami atau orang tua keladang dan kesawah. Di bangunnya SMP di kecamatan, beberapa tahun lalu, para perempuannya sebagian ada yang menyelesaikan sekolah hingga SMP, kemudian kawin dan kembali membantu suami atau orang tua bercocok tanam.

Untuk melanjutkan ke jenjang SMA, bagi sebagian perempuan "urang bukit" sangatlah sulit. Faktor yang mereka hadapi adalah ekonomi keluarga, kurang sadarnya orang tua mereka akan pentingnya pendidikan, dan situasi tempat tinggal mereka yang sangat jauh untuk menuju sekolah.

Namun dari sekian perempuan-perempuan "Dayak Meratus" adapula yang sadar akan arti pentingnya pendidikan.
Seperti gadis yang bernama Ega (foto 1 dan 3) adalah seorang perempuan yang dianggap orang tuanya sukses karena berhasil menyelesaikan sekolah dan bekerja di salah satu rumah sakit di Banjarmasin.

Contoh lain adalah Rahma (foto 4) yang masih berjuang di Ibukota Jakarta untuk menyelesaikan study fakultas Hukumnya.

Namun adapula perempuan-perempuan "Dayak Meratus" yang bernasib lain, Seperti gambar no 2 diatas adalah salah satu contoh perempuan "dayak meratus" yang harus membantu orang tuanya bekerja mengupas biji kemiri. 

Dan foto no 5 adalah perempuan muda "dayak meratus yang kawin muda dan sudah mempunyai anak.

Kini, Peradaban mulai menggerus mereka. teknologi digitalisme dan gaya hidup modern sudah masuk ke sela-sela pepohonan dan semak belukar di dusun terpencil mereka. 

Apalacur, berjuang mempertahankan adat budaya yang diwariskan nenek moyang mereka sangatlah sulit dijaman "Gila" seperti sekarang ini. Pelan tapi pasti pergeseran nilai budaya tak bisa dipungkiri.. PENDIDIKAN YANG TIDAK SEMU lah yg bisa meneruskan cita-cita perjuangan pahlawan kita... KARTINI

Itulah kehidupan "nyata" sepenggal Indonesia..

Catatan kecil Donny Sophandi 
"KARTINI" DARI LERENG MERATUS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kami di Facebook