Latest News

Minggu, 24 April 2016

Geger Foto Beruk 'Monyet' Dibunuh Lalu Diberi Rokok

Centralmaya.com | Satwa primata itu terlihat tak berdaya. Kedua tangan dan kakinya diikat lalu digantung pada sebatang kayu dan diletakkan di bagian belakang jok motor.

Meski terlihat tak berdaya, Beruk (Macaca Nemestrina) yang sudah tak bernyawa itu pun masih mendapat perlakuan tak layak. Sebatang rokok terlihat menyelip di mulutnya.

Begitulah gambaran yang terlihat dari tiga foto yang diunggah dan beredar viral di media sosial Facebook. Dua ekor Beruk hasil buruan menjadi bahan olokan dan dengan bangganya diunggah di media sosial.

"Berok (beruk) pun pandai merokok" bunyi kalimat yang menyertai foto yang diunggah akun Rama Dhan pada 20 april 2016. Foto itu kemudian dibagikan, dan menuai reaksi keras serta kecaman dari para netizen, khususnya di Kalimantan Barat.

Menyikapi beredarnya foto tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar pun tidak tinggal diam. Hasil penelusuran, foto itu diunggah oleh Adul, warga Desa Sijang, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas.

Kepala BKSDA Kalbar, Sustyo Iriono mengatakan, setelah mendapat laporan dan mengetahui lokasinya, petugas Seksi Konservasi Wilayah III - KPHK Gunung Melintang dan petugas Manggala Agni BKSDA Kalbar, bersama Bhabinkamtibmas dan Babinsa kemudian mendatangi pelaku.

"Pelaku mendapat teguran keras dan pembinaan, karena telah mengunggah gambar itu di media sosial, terlebih sudah memperlakukan satwa itu dengan tidak layak," kata Sustyo, Sabtu (23/4/2016) malam.

Sustyo menambahkan, meskipun status satwa tersebut tidak termasuk dalam daftar yang dilindungi undang-undang, namun saat ini keberadaannya sudah mulai langka.

"Ulah pelaku selama beberapa hari ini telah menimbulkan kejengkelan dan keresahan kepada masyarakat Kalbar, khususnya warga masyarakat pengguna media sosial," ungkap Sustyo.

Sustyo menegaskan, kekayaan alam Indonesia harus dijaga dan upaya pemanfaatan harus dibarengi dengan upaya pelestarian yang sepadan. Upaya tersebut melalui perlindungan, penangkaran, dan perbaikan habitat.

"Oleh karena itu, tindakan perdagangan dan perburuan ilegal tumbuhan dan satwa liar dan kepemilikan satwa liar yang dilindungi undang-undang untuk kesenangan harus bisa dihentikan," ungkap Sustyo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kami di Facebook